Jumat, 29 Agustus 2014

TAK AKAN ADA GALAU LAGI

         Kisahku dengan Wira berakhir tanpa kata putus atau sejenisnya. Dia meminggalkan aku begitu saja tanpa kejelasan apapun. Aku pun tak mau memperdulikan hal itu. Aku tak mau hatiku merasakan sakit yang berlarut-larut. Kubiarkan si pemilik senyum charming itu berlalu berama kisahku yang dulu. Dan hatiku pun kini bs penuh dengan nama Gilang lagi.
         Sejak kejadian terlambatnya Ari saat upacara waktu itu. Aku pun banyak tau tentang Gilang dari Ari. Ari pun mengerti, kalu aku memang memendam perasaan pada Gilang. Dari Ari aku tau, kalau Gilang ternyata suka gitar, dia tinggal di dekat rumah Ari, dia jago menggambar dan dia memang pendiam.
          Itu semua cukup? Tidak, jujur sebenarnya aku ingin sekali dekat dengannya. Ingin mengobrol, menyapa, atau tertawa bersamanya. Tapi aku tak tau, kapan saat itu tiba. Ya ampun, kenapa perasaan ini bisa jadi sebesar ini. Rasanya aku mulai tak bisa membendungnya. Terasa mulai sesak, setiap kali aku melihatnya, dada ini tak bisa berhenti bergetar. bahkan suara detak jantungku sampai terdengar ke telinga ini.
         


                                               *******************************



           Ujian kenaikan kelas pun berakhir. Liburan kulalui dengan biasa saja. Sampai tiba saatnya aku pindah kelas lagi. Kali ini jarak kelas ku dan Gilang jadi lumayan jauh. Otomatis intensitas pertemuanku dan dia pun jadi berubah 180 derajat. Aku mulai putus asa. Tapi ternyata keadaan berkata lain.
          Saat ini BNN(Badan Narkotika Nasional) sedang mengadakan lomba antar sekolah. Lomba di bagi menjadi beberapa bidang. Ada debat, cerdas cermat dan desain poster. Penyeleksian puin di lakukan di setiap kelas. Aku tak mendaftar di lomba apapun. Tapi ternyata diam-diam Ari mendaftarkan aku ke moba desain poster. Dia tau kalau aku suka menggambar. Dan saat guru pembimbing lomba desain poster datang ke kelas. Namaku pun ikut di panggil. Dengan hati bingung pun aku terpaksa ikut pelatihan untuk lomba ini. Peserta seleksi ada sekitar 20 orang. kami semua berkumpul di ruangan LAB Kesenian. Aku satu-satunya murid perempuan di ruangan ini. " Ya ampun... "  Keluhku dalam hati.
" Awas ya lu Ri " Kataku sambil melotot.
" Apaan sih? " Katanya tertawa kecil.
" Liat dong... Gue sendirian disini "
" Liat dulu dong... di pojokan sana ada siapa... ? " Kata Ari sambil menoleh ke pojokan.
" Hah ? " Aku terbelalak.
           Gilang sedang tersenyum ke arahku. Ya ampun, aku lupa kalau Gilang juga punya hobi menggambar. Jadi ini rencana Ari. Dia mendaftarkan aku karena tau Gilang juga mendaftar di lomba ini.
" Apaan sih lu? " Kataku meahan malu. Aku tau, saat ini pasti wajahku merah seperti tomat busuk.
" Hahahaha.... semangat ya Di " Katanya terbahak.
         Penyeleksian pun di mulai. Setelah pembimbing memberi arahan pada kami semua. Kami semua pun mulai menggambar di atas kertas  A3 tebal. Tema nya adalah semua yang menyangkut tentang Narkoba dan teman-temannya. Aku mulai menggambarkan sesuatu yang terlintas di pikiranku. Hingga 20 menit pun berlalu. pembimbing mulai menilai gambar-gambar yang kami kumpulkan.
" Oke yang kertas gambar nya bapak kembalikan, berarti harus kembali ke kelas, tidak usah melanjutkan seleksi ya. Berarti kalian gugur diseleksi ini " Pak Rahmat memberikan arahan.
Dia pun mulai memanggil nama-nama murid yang tak lolos seleksi. Sampai tersisa tujuh orangdari 20 orang tadi.
         Hanya ada aku, Ari, Gilang dan empat anak lainnya. Yah, untungnya aku termasuk anak-anak yang lolos dari seleksi awal tadi.
" Oke, kaian punya tugas dirumah... Gambar lagi dengan tema yang sama. Tapi harus di warnai. Ada pertanyaan? "
" Pak " Ari mengacungkan tangannya.
" Ya kamu "
" Kira-kira berapa orang dari kita yang akan di ikut sertaka ke lomba pak? "
" 4 orang " Jawab pak Rahmat.

DAN SEMUANYA BERUBAH PART II

        Enam bulan kujalani dengan status sebagai pacar Wira, ya layaknya pacaran, ada apel malam Minggu walaupun itu sembunyi-sembunyi. Ya, karena aku memang belum di izinkn pacaran saat ini. Jadi semua yang kulakukan bersama Wira, pasti harus sembunyi-sembunyi. Ada jalan bareng saat pulang sekolah, meski kami berdua tak pernah bergandengan tangan seperti pasangan lainnya. Bahkan, kami sempat foto berdua, dan ada saatnya aku wajib menonton pertandingan sepak bolanya. Semuanya kulakukan dengan bahagia tanpa rasa terpaksa sedikitpun. Tak ada kejadian putus nyambung di hubungan ini. Semua berjalan baik-baik saja. Wira juga termasuk tipe cowok yang lumayan romantis. Kadang dia menghampiri ku hanya untuk memberikan secarik kertas berisikan kata-kata romantis. Ya, ini kali pertama aku berpacaran, dan sangat tidak mengecewakan.
         Tentang Gilang, dia tetap tak bisa terlupakan olehku. Aku masih tetap sering memperhatikan dia dari kejauhan. Mengulum senyum sendiri saat sedang membayangkan senyumnya, walau kadang lamunanku buyar terhapus oleh inatanku tentang Wira. Tapi, posisi Gilang di hatiku tetap tak bisa berubah tempat. Dia tetap membuatku makin penasaran sampai saat ini. Hingga suatu Senin pagi, pada saat upacara sedang berlangsung di lapangan bola sekolah ini. Hari ini aku bertugas sebagai penggeret bendera di upacara. Tentu posisiku sekarang berada di depan semua peserta upacara. Dan jelas semua yang ikut dalam upacara ini bisa terlhat olehku.
         Daritadi mataku pun sibuk mencari-cari sosok Gilang di barisan kelasnya. Tapi sosok yang aku cari itu tak terlihat. Malah Ega yang terlihat jelas. Karena memang akhir-akhir ini, entah kenapa teman-teman Ega sering mengolok-ngolok aku jika Ega dan aku terlihat di depan mereka. Mereka meledekku, seolah aku punya cinta yag tak kesampaian pada Ega. Aku juga tak mengerti darimana mereka tau tentang perasaanku pada Ega. Padahal itu semua kan sudah berlalu cukup lama. Kenapa baru sekarang muncul kepermukaan.
          Tiba-tiba dari sudut lapangan, aku melihat sekeompok anak-anak yg terlambat. Salah satu dari mereka adalah Ari teman sekelasku. Aku pun tertawa kecil melihatnya berlari terburu-buru. Tapi, ada seseorang lagi yang aku kenal. Itu Gilang, dia terlihat berlari menyusul Ari di belakang. Sambil memanggil nama Ari. " Oh... ternyata mereka kenal " Gumamku dalam hati.
          Satu langkah maju untukku. Aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang Gilang dari Ari. Untungnya aku dekat dengan Ari si cowok jago Inggris di kelasku. Ya selama ini kami memang ikut kursus pelajaran B. Inggris di tempat yang sama. Di kelas pun kami lumayan dekat. Aku sering meninggalkan teman sebangkuku Desi hanya demi mengobrol dengan Ari. Ya, akhirnya aku mendapatkan jalan yang berbeda hari ini.


                                                             ***********************



         Akhirnya masalahku dengan Wira pun muncul. Wira akhir-akhir ini mulai sibuk dengan kegiatan belajar tambahan. Aku maklum, bahkan sangat maklum. Karena dia memang kelas 3 sekarang. Ujian akhir sudah di depan mata. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja, dia tiba-tiba jadi berubah cuek padaku. Awalnya ku pikir karena mungkin dia sedang sibuk. Tapi ku lihat Ine tetap bisa berkomunikasi normal dengan pacarnya yang teman sekelas Wira. Akhirnya, aku merasa kalau aku harus bertanya tentang perubahan ini. Entah kenapa, itu semua malah menjadi pengganggu pikiranku. Aku pun memutuskan untuk menemuinya hari ini. Aku menunggu nya di belakang kelas.
" Ada apa Di? " Tanyanya saat sudah di hadapanku. Seperti biasa, masih dengan senyuman charming itu.
" Um... Kamu kenapa berubah akhir-akhir ini? "
" Berubah? Hah? Apanya yang berubah di? " Dia memandangku lekat. Aku malah menunduk.
" Um.... Kamu berubah... " Kataku pelan. " Kamu ngga kaya biasanya "
" Kenapa Di? Aku biasa aja koq... maaf klo akhir-akhir aini aku sibuk, kan lagi ujian "
" Ya aku tau, tapi gimana ya? Kamu beda, kadang kamu pura-pura ngga ngeliat aku Wira... " Aku semakin menundukkan kepalaku. " Bilang kalo kamu mulai bosen sama aku, aku memang ngga kaya cewe lainnya yang mau di genggam tangannya kalo jalan berdua. Tapi jujur aku ngga suka kamu cuekin "
" Di... " Dia menyentuh daguku. Membuat aku mendongak ke arah wajahnya. Tapi aku kembali menunduk. " Di... liat aku " Dia melakukan hl yang sama seperti tadi. Tapi kali ini aku tak menolak. " Aku ngga berubah Di... Ngga... Tapi memang ini yang aku mau dari kamu, kamu sedikit peduli sama aku. Ini yang aku mau, aku jadi tau, kalo bukan cuma aku yang suka sama kamu. Tapi kamu juga... "
" Hah? "
" Yaudah... Jangan mikir macem-macem lagi ya " Katanya sambil mengelus kepalaku pelan. " Aku balik ke kelas yah... " Dia mengelus pipiku kali ini.
Tinggalah aku sendirian dengan semua kata-kata yang membingungkan tadi.



                                                        ***************************


          Ujian akhir kelas 3 berlalu, tapi tak ada perubahan dari Wira. Dia masih cuek padaku. Tak memperdulikanku seperti biasa. Aku pun meyerah, aku tak ingin menanyakannya lagi. Kadang aku hanya sekedar melihat pertandingan bolanya dari jendela. Sedih memang, sedih sekali rasanya. Ada yuang sakit sekali, tapi entah di bagian hati yang mana. Aku tak menyangka, rasa sakit dicuekin itu rupanya bisa sampai seperti ini. Walupun aku mencoba menutupinya setiap hari. Dengan tertawa terbahak bersama Ari, tapi disaat aku sendirian, rasa sakit itu kembai muncul.
" Lu punya masalah apa sih Di? " Seseorang menghampiri aku yang sedang duduk termenung di belakang kelas. Dia Riky teman sebangku Ari.
Sejak awal aku pindah ke kelas unggul, dia memang selalu berusaha dekat denganku. Bahkan saking isengnya, tiap jam pulang sekolah dia selalu menggangguku jika jarak jalanku dengan Wira menempel.
" Hah? Ngga ada koq... " Jawabku.
" Udah ngga usah bohong, hubungan lu sama si gondrong itu mulai ga nyaman kan? "
Ya, Wira memang gondrong, Riky selalu menyebutnya si gondrong jika membicarakannya.
" Yah... begitulah " Kataku.
" Udah lah.... ngga usah bete gitu. Nih " Dia menyerahkan setengah batang coklat padaku.
Seperti biasa, dia selalu membagi coklatnya padaku.
" Hmmmm... " Aku tersenyum. " Makasih "
" Katanya sih, coklat bisa bikin mood buruk jadi bagus lagi " Kata Riky sambil mencubit pipiku.
" Aw... Sakit Ky... " Teriakku.

        Diseberang kelas sana ada yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas. Cowok bertopi dan gondrong. Ya Gilang mendengar teriakanku. Dia menoleh ke arahku. Dan aku pun terpaku sejenak.

DAN SEMUANYA BERUBAH

         Tak terasa setahun berlalu dengan rasa kagum yang bergentayangan di hati. Aku pun naik ke kelas 2 SMP. Kelas pun berpindah tempat. Untungnya bagiku, aku terpilih untuk masuk ke kelas Unggul. Aku lulus seleksi 5 besar anak terpintar di kelas. Dan kejutan bagiku, kelas ku letaknya di seberang kelas Gilang. Ya kelas kami begitu dekat jaraknya. Sayang, Gilang adalah tipe anak laki-laki yang sangat jarang keluar kelas. Walupun begitu, setiap pagi aku tetap bisa melihatnya dengan jarak yang lumayan dekat. Aku merasa semakin dekat dengannya. Sungguh-sungguh sangat dekat. Dan perasaan itu pun terasa semakin dalam.
         Tapi semua tak berlalu selancar itu. Entah kenapa, tiba-tiba ada kakak kelas yang nekat memberikan surat cinta padaku. Ya saat ini aku sedang memegang surat cinta pertamaku. Bukan surat-suratan yang biasa aku berikan pada Ega dulu.



Dear Diandra

         Di.... dari pertama aku ketemu kamu di perpustakaan, aku suka sama kamu....
Maaf kalo aku cuma berani nyatain lewat surat ini.... Tapi aku mohon... Kamu mau kan jadi pacar aku?

From Wira


Ya... sependek itulah isi surat dari si kakak kelas bernama Wira. Aku memang pernah bertemu dengannya beberapa kali, bukan bertemu, hanya berpapasan. Dan di perpustakaan waktu itu, kupikir dia tak memperhatikan aku. Saat itu aku berdua dengan Tiara teman sebangkuku. Kupikir dia memperhatikan temanku itu. Malah sebaliknya, teman Wira lah yang memperhatikanku. Teman Wira itupun saat ini statusnya sedang berpacaran dengan teman sekelasku. Jadi aku pun tidak menganggap itu suatu hal yang harus dipikirkan. Tapi apa ini? Kenapa surat ini malah di tujukan padaku.
          Kubaca surat ini berkali-kali. Haruskah aku membalasnya? Tanyaku dalam hati. Apa yang harus aku balas? Iyakah aku harus menerimanya?. Aku bingung.
" Di... balas yah " Kata teman sekelasku Ine yang tadi aku bilang sedang berpacaran dengan teman Wira.
" Um.... " Aku menggigit bibirku. " Sekarang? " Tanyaku.
" Iya... " Jawab Ine enteng. " Terima yah... Jangan di tolak.. Jadi kita bisa double date "
" Hah? " Aku pun semakin bingung. " Iya deh " Kataku.
 Aku pun mulai menulis balasan surat itu.

Dear Wira

Ya, Di juga suka sama kamu....
Um.... Oke kita pacaran....

From Diandra

Ya... sependek itulah balasanku. Aku benar-benar bingung harus menulis apalagi. Karna isi surat cinta darinya pun tak panjang dan tak ada kata-kata pujian sama sekali. Hahahahaha.... surat cinta yang aneh.
         Tak lama aku menyerahkan surat itu pada Ine, tiba-tiba Wira muncul di depan wajahku. Ya dia duduk tepat di depanku. Aku mematung aku tak bergerak. Kaget sekali, dia muncul dan langsung tepat memandang langsung ke arahku.
" Hai Di... " Sapanya.
" Eh... ya hai... " Jawabku.
" Jadi kita pacaran nih? " Tanyanya sambil tersenyum padaku. Jujur, dia memang termasuk tipe cowok yang lumayan. Tidak jelek sama sekali. Bahkan dia ganteng menurutku.
Dia juga jago olahraga, setauku banyak cewek di sekolah ini yang suka padanya. Tidak termasuk aku.
" Ha? eh... iya... " Jawabku. " Tolong jangan pandangi aku dengan wajah seperti itu " Keluhku dalam hati.
Jujur senyumnya membuatku tak bisa bergerak. Hahahah... aku tipe orang yang gampang luluh ya?. Dengan waktu sekejab saja aku bisa langsung menyukai Wira. Tapi tidak, aku tak seperti itu. Gilang masih tak bisa hilang dari hatiku. Dia hanya tersisih sementara.
" Oke, kalo gitu ntar kita pulang bareng yah.... " Kata Wira, masih dengan senyum charming itu.
" Eh... Oke... " Jawabku.
Dia pun berlalu meninggalkan senyum terakhirnya padaku.
        Fix... Wira lah yang jadi pacar pertamaku saat ini. Bukan Ega atau Gilang. Ya Tuhan... apa ini?
Aku mengkhianati hatiku. Maafkan aku hatiku. Mau bagaimana lagi, ini pertama kalinya aku di tembak cowok, walaupun hanya lewat surat pendek, tapi Wira lah yang orang pertama yg berani menyatakan perasaannya padaku. Ya dia lah yang pertama kali.
     



                                                     ***************************



       Dua hari berlalu dari kejadian penembakan surat pendek, pagi ini aku di datangi kakak kelas yang mengaku sebagai pacar Wira. Dia memanggilku ke depan kelas. Dia memasang wajah berangnya padaku.
" Lu pacarnya Wira? " Tunjuknya padaku.
" Iya kak " Jawabku tak gentar.
" Hmmmmm.... ini pacarnya Wira " Katanya agak melecehkan. Jujur aku risih.
" Kenapa kak? " Tanyaku.
Dia malah berlalu meninggalkan aku. Aku pun kembali ke dalam kelas. Tak lama aku duduk, tiba-tiba Wira muncul di depan kelas. Aku pun menghampirinya.
" Kamu ngga apa-apa Di? " Tanya nya.
" Hah? Kenapa? " Tanyaku.
" Katanya tadi Resa nyamperin kamu "
" Oh... yang tadi, namanya Resa? Katanya pacar kamu " Kataku.
" Bukan, dia mantan aku "
" Oh... terus dia mau apa nyamperin aku? " Tanyaku.
" Hah? Ngga tau, lain kali kalo dia nyamperin kamu lagi bilang ke aku ya " Aku mengangguk kecil.
          Beginikah rasanya punya pacar, ada yang memperhatikan, ada yang mengkhawatirkan bahkan ada yang selalu menunggu di belakang kelas. Biasanya aku yang memperhatikan, menunggu seseorang lewat. Hahahahah... Inikah rasanya?

AT FIRST TIME PART II

          Saatku pertama kali melihatnya saat itu, setiap hari rasa penasaranku pun makin bertambah. Sedang apa dia? Masih sedingin kulkas kah dia hari ini? Bagaimana wajahnya hari ini? Masih teduh kah seperti biasanya?. Hahahaha... konyol memang, tapi begitulah perasaanku saat ini. Bahkan aku bisa langsung menempatkan Ega si cinta masa SD ku di bagian entah mana hatiku. Aku bisa langsung megganti posisinya dengan Gilang. Untungnya posisi dudukku di kelas dekat dengan jendela dan pintu masuk. Jadi mataku bisa bebas berkeliaran keluar.
          Aku tak peduli, bahkan semua temanku tengah sibuk dengan para kakak-kakak kelas yang populer dengan segala kebisaan mereka. Aku tak perduli. Dihatiku penuh dengan bayangan Gilang yang dingin sedingin kulkas. Walau aku tak tau, sepintar apa dia di kelas, jago dalam olahrga apakah dia?, adakah cewek selain aku yang dia suka. Aku tak perdulikan semua itu. Yang aku tau, aku harus banyak tau tentang dia.
          Sejauh ini, aku tau kalu dia rutin ke perpustakaan, dia rutin ke kantin, dia rutin lewat di depan kelasku. Jelaslah dia ruitn melewati kelasku. Letak kelasnya memang di ujung sekolah. Hahahaha.... sebegitu gilanya aku dibuatnya. Maafkan aku Ega, aku berpaling hati. Lagipula Ega pun cuek bebek padaku. Wajar kalau aku begitu mudah berpaling hati.
          Tapi aku juga bukan tipe cewek yang agresif. Yang berani menghampiri cowok yang aku sukai. Tidak, aku tak seperti itu. Aku hanya cukup memandang nya berlama-lama. Melihatnya dari kejauhan tanpa berharap dia membalas melihatku. Aku tipe orang yang puas hanya dengan menjadi sekedar pengagum rahasianya saja. Aku sama sekali tak berharap kalau Gilang akan membalas semua rasa kagumku padanya. Aku puas dengan semua perasaanku ini.
          Dan pada kenyataannya. Saat  aku mengagumi Ega pun, aku hanya memendam perasaanku ini, tanpa berharap Ega membalasnya. Walaupun aku tau, kalau Ega menyadari hal itu. Tapi aku tak akan menuntutnya untuk berbalik menyukaiku. Ya, itulah aku. Puas dengan segala hal yang aku lakukan.
           Seperti saat ini, aku membiarkan perasaan ini mengalir dengan sendirinya, menjalani hari-hari dengan rasa kagum di hati, membuatku lebih bersemangat dalam menjali hari-hariku di sekolah. Cukup dengan mengulum senyum sendirian. Menuliskan namanya di pojok buku. Menuliskan namanya di buku harian unguku. Yah, biarkan aku menikmati perasaan ini. Saat pertama kali perasaan ini muncul. Yang aku rasakan hanya kebahagian yang menyelimuti. Aku rasa bahagia itu cukup buatku.

Senin, 11 Agustus 2014

AT FIRST TIME

          Suara deruman mobil di jalan, mampu membuat kantuk dari mata ini hilang seketika. Rasanya raga ini begitu enggan mengendari motor ini untuk segera sampai ke kampus. Aku sunguh tak bersemangat hari ini. Akhirnya ku puuskan untuk membelokkan motorku ke alun-alun dan berhenti di tenda jajanan bakso goreng langgananku. Ku parkirkan motor di pinggir tenda dan aku langsung duduk di pojokan seperti biasanya.
         " Neng Diandra bolos kuliah lagi neng? " tanya si emppunya tenda jajanan ini padaku.
Namanya Bang Rado, bertubuh gemuk dan berperawakan tidak begitu tinggi, bahkan tingginya pun tak melampaui tinggi badanku.
         " Iya bang... " jawabku sekenanya.
Dia pun menghampiriku dengan membawa beberapa bakso bakar dan teman-temannya, ada lumpia isi ayam dan bakwan jagung. Saking seringnya aku nongkrong disini, jadi dia pun tau apa kesukaanku.
         " Makasi ya bang " kataku sambil mencomot satu lumpia isi ayam.
Dia pun duduk di depanku. Mungkin karna tenda juga belum ramai, dia ingin mengobrol sebentar denganku.
         " Kenapa sih neng? koq sering banget bolos kuliah? " tanyanya padaku.
         " Ngga kenapa-kenapa bang... Gue lagi ngga semangat aja. Lagian dari awal juga gue udah males kalo kuliah disana. Niatnya udah ngga ada. Hahahaha... " tawaku terdengar miris.
         " Kalo emang dari awal ngga niat kuliah disitu, kenapa eneng malah masuk situ? "
         " Ya karena orang tua maunya gue kuliah disono bang "
         " O... penurut juga rupanya " katanya tersenyum mengejek.
         " Ye !!! bang Rado mah... jangan di pikir dandanan gue begini terus gue ngelawan sama ortu... Dosa kali bang !!!"
Kami pun tertawa terbahak.
         Oh ya, perkenalkan, namaku Diandra Gaesha. Usiaku baru saja menginjak 17 tahun. Mahasiswa semester awal di salah satu fakultas swasta di Jakarta. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Ya, aku ragil alias bontot. Kakakku satu-satunya bernama Rakha Gemilang. Dia sudah bekerja sebagai manager hotel di salah satu hotel terkenal di Bali. Ya dia sudah mencapai kesuksesannya sekarang. Giliranku lah kini.
        Aku cewek, ya sama seperti cewek lazimnya. Hanya saja gayaku bisa di bilang sedikit nyeleneh. Aku suka memakai jeans belel yag robek di bagian lutut atau memakai celana kargo yang biasanya memang awamnya di pakai anak laki-laki. Aku juga punya band dan aku aktif di les musik. Meski anggota band ku personilnya terdiri dari cewek semua. Tapi semua dari mereka bertingkah nyaris sama sepertiku. Tapi, walaupun aku nyeleneh, aku tetaplah wanita normal. Aku tetap jatuh cinta. Dan inilah sedikit banyaknya akan ku ceritakan kisah cintaku.
      



                                                                ***********************
        Namanya Gilang, Gilang Yudhatama. Aku melihatnya pertama kali saat aku tak sengaja mengantar temanku yang ingin bertemu dengan cinta monyetnya di ujung sekolah. Ya, cinta monyet, apalagi namanya kalau bukan cinta monyet? . Usiaku kami saat itu adalah rata-rata tak lebih dari 12 tahun. Awalnya aku berniat lain, aku mau ikut mengantar Cintya waktu itu, karna aku punya maksud ingin melihat seseorang disana. Ya aku ingin melihat cinta masa kecilku Ega. Sambil menyelam minum air kan?. Eh ternyata, niatku itu tak berhasil. Saat aku tiba disana, Ega tak memperlihatkan batang hidungnya. Mataku mencari di sekeliling kelas yang letaknya di ujung sekolah SMP 35 ini. Tapi Ega tak terlihat sama sekali. Tapi tiba-tiba mataku terpaku pada satu sosok di sudut kelas. Dia terlihat begitu misterius, Memakai topi dan sedang sibuk mencorat coret buku. Aku sungguh di buatnya penasaran. Sampai aku tak memindahkan letak pandangku. Aku ingin sekali dia mengangkat wajahnya. Sampai akhirnya dia pun mengangkat wajahnya dan melihat ke arahku. Ya Tuhan, ternyata dia tak mengecewakan. Wajahnya telihat begitu teduh dengan mata yang sipit tapi tajam. Dia melihat ke arahku dengan tak menoleh sedikit pun. Sampai akhirnya aku menyerah dan tak berani lagi melihat ke arahnya.
       Itulah kali pertama aku melihatnya. Seseorang sedingin kulkas yang  begitu membuat aku penasaran. Aku langsung mencari tau tentang siapa dia. Dan akhirnya aku tau, kalau namanya adalah Gilang Yudhatama. Si cowok dingin bermata teduh yang berani menantang melihatku. Cowok tampan yang mampu mebuatku melupakan Ega seketika. Cowok dingin yang mampu membuatku mati penasaran. Dan dari sinilah kisahku dan dia di mulai.