Jumat, 29 Agustus 2014
Kisahku dengan Wira berakhir tanpa kata putus atau sejenisnya. Dia meminggalkan aku begitu saja tanpa kejelasan apapun. Aku pun tak mau memperdulikan hal itu. Aku tak mau hatiku merasakan sakit yang berlarut-larut. Kubiarkan si pemilik senyum charming itu berlalu berama kisahku yang dulu. Dan hatiku pun kini bs penuh dengan nama Gilang lagi.
Sejak kejadian terlambatnya Ari saat upacara waktu itu. Aku pun banyak tau tentang Gilang dari Ari. Ari pun mengerti, kalu aku memang memendam perasaan pada Gilang. Dari Ari aku tau, kalau Gilang ternyata suka gitar, dia tinggal di dekat rumah Ari, dia jago menggambar dan dia memang pendiam.
Itu semua cukup? Tidak, jujur sebenarnya aku ingin sekali dekat dengannya. Ingin mengobrol, menyapa, atau tertawa bersamanya. Tapi aku tak tau, kapan saat itu tiba. Ya ampun, kenapa perasaan ini bisa jadi sebesar ini. Rasanya aku mulai tak bisa membendungnya. Terasa mulai sesak, setiap kali aku melihatnya, dada ini tak bisa berhenti bergetar. bahkan suara detak jantungku sampai terdengar ke telinga ini.
*******************************
Ujian kenaikan kelas pun berakhir. Liburan kulalui dengan biasa saja. Sampai tiba saatnya aku pindah kelas lagi. Kali ini jarak kelas ku dan Gilang jadi lumayan jauh. Otomatis intensitas pertemuanku dan dia pun jadi berubah 180 derajat. Aku mulai putus asa. Tapi ternyata keadaan berkata lain.
Saat ini BNN(Badan Narkotika Nasional) sedang mengadakan lomba antar sekolah. Lomba di bagi menjadi beberapa bidang. Ada debat, cerdas cermat dan desain poster. Penyeleksian puin di lakukan di setiap kelas. Aku tak mendaftar di lomba apapun. Tapi ternyata diam-diam Ari mendaftarkan aku ke moba desain poster. Dia tau kalau aku suka menggambar. Dan saat guru pembimbing lomba desain poster datang ke kelas. Namaku pun ikut di panggil. Dengan hati bingung pun aku terpaksa ikut pelatihan untuk lomba ini. Peserta seleksi ada sekitar 20 orang. kami semua berkumpul di ruangan LAB Kesenian. Aku satu-satunya murid perempuan di ruangan ini. " Ya ampun... " Keluhku dalam hati.
" Awas ya lu Ri " Kataku sambil melotot.
" Apaan sih? " Katanya tertawa kecil.
" Liat dong... Gue sendirian disini "
" Liat dulu dong... di pojokan sana ada siapa... ? " Kata Ari sambil menoleh ke pojokan.
" Hah ? " Aku terbelalak.
Gilang sedang tersenyum ke arahku. Ya ampun, aku lupa kalau Gilang juga punya hobi menggambar. Jadi ini rencana Ari. Dia mendaftarkan aku karena tau Gilang juga mendaftar di lomba ini.
" Apaan sih lu? " Kataku meahan malu. Aku tau, saat ini pasti wajahku merah seperti tomat busuk.
" Hahahaha.... semangat ya Di " Katanya terbahak.
Penyeleksian pun di mulai. Setelah pembimbing memberi arahan pada kami semua. Kami semua pun mulai menggambar di atas kertas A3 tebal. Tema nya adalah semua yang menyangkut tentang Narkoba dan teman-temannya. Aku mulai menggambarkan sesuatu yang terlintas di pikiranku. Hingga 20 menit pun berlalu. pembimbing mulai menilai gambar-gambar yang kami kumpulkan.
" Oke yang kertas gambar nya bapak kembalikan, berarti harus kembali ke kelas, tidak usah melanjutkan seleksi ya. Berarti kalian gugur diseleksi ini " Pak Rahmat memberikan arahan.
Dia pun mulai memanggil nama-nama murid yang tak lolos seleksi. Sampai tersisa tujuh orangdari 20 orang tadi.
Hanya ada aku, Ari, Gilang dan empat anak lainnya. Yah, untungnya aku termasuk anak-anak yang lolos dari seleksi awal tadi.
" Oke, kaian punya tugas dirumah... Gambar lagi dengan tema yang sama. Tapi harus di warnai. Ada pertanyaan? "
" Pak " Ari mengacungkan tangannya.
" Ya kamu "
" Kira-kira berapa orang dari kita yang akan di ikut sertaka ke lomba pak? "
" 4 orang " Jawab pak Rahmat.
Sejak kejadian terlambatnya Ari saat upacara waktu itu. Aku pun banyak tau tentang Gilang dari Ari. Ari pun mengerti, kalu aku memang memendam perasaan pada Gilang. Dari Ari aku tau, kalau Gilang ternyata suka gitar, dia tinggal di dekat rumah Ari, dia jago menggambar dan dia memang pendiam.
Itu semua cukup? Tidak, jujur sebenarnya aku ingin sekali dekat dengannya. Ingin mengobrol, menyapa, atau tertawa bersamanya. Tapi aku tak tau, kapan saat itu tiba. Ya ampun, kenapa perasaan ini bisa jadi sebesar ini. Rasanya aku mulai tak bisa membendungnya. Terasa mulai sesak, setiap kali aku melihatnya, dada ini tak bisa berhenti bergetar. bahkan suara detak jantungku sampai terdengar ke telinga ini.
*******************************
Ujian kenaikan kelas pun berakhir. Liburan kulalui dengan biasa saja. Sampai tiba saatnya aku pindah kelas lagi. Kali ini jarak kelas ku dan Gilang jadi lumayan jauh. Otomatis intensitas pertemuanku dan dia pun jadi berubah 180 derajat. Aku mulai putus asa. Tapi ternyata keadaan berkata lain.
Saat ini BNN(Badan Narkotika Nasional) sedang mengadakan lomba antar sekolah. Lomba di bagi menjadi beberapa bidang. Ada debat, cerdas cermat dan desain poster. Penyeleksian puin di lakukan di setiap kelas. Aku tak mendaftar di lomba apapun. Tapi ternyata diam-diam Ari mendaftarkan aku ke moba desain poster. Dia tau kalau aku suka menggambar. Dan saat guru pembimbing lomba desain poster datang ke kelas. Namaku pun ikut di panggil. Dengan hati bingung pun aku terpaksa ikut pelatihan untuk lomba ini. Peserta seleksi ada sekitar 20 orang. kami semua berkumpul di ruangan LAB Kesenian. Aku satu-satunya murid perempuan di ruangan ini. " Ya ampun... " Keluhku dalam hati.
" Awas ya lu Ri " Kataku sambil melotot.
" Apaan sih? " Katanya tertawa kecil.
" Liat dong... Gue sendirian disini "
" Liat dulu dong... di pojokan sana ada siapa... ? " Kata Ari sambil menoleh ke pojokan.
" Hah ? " Aku terbelalak.
Gilang sedang tersenyum ke arahku. Ya ampun, aku lupa kalau Gilang juga punya hobi menggambar. Jadi ini rencana Ari. Dia mendaftarkan aku karena tau Gilang juga mendaftar di lomba ini.
" Apaan sih lu? " Kataku meahan malu. Aku tau, saat ini pasti wajahku merah seperti tomat busuk.
" Hahahaha.... semangat ya Di " Katanya terbahak.
Penyeleksian pun di mulai. Setelah pembimbing memberi arahan pada kami semua. Kami semua pun mulai menggambar di atas kertas A3 tebal. Tema nya adalah semua yang menyangkut tentang Narkoba dan teman-temannya. Aku mulai menggambarkan sesuatu yang terlintas di pikiranku. Hingga 20 menit pun berlalu. pembimbing mulai menilai gambar-gambar yang kami kumpulkan.
" Oke yang kertas gambar nya bapak kembalikan, berarti harus kembali ke kelas, tidak usah melanjutkan seleksi ya. Berarti kalian gugur diseleksi ini " Pak Rahmat memberikan arahan.
Dia pun mulai memanggil nama-nama murid yang tak lolos seleksi. Sampai tersisa tujuh orangdari 20 orang tadi.
Hanya ada aku, Ari, Gilang dan empat anak lainnya. Yah, untungnya aku termasuk anak-anak yang lolos dari seleksi awal tadi.
" Oke, kaian punya tugas dirumah... Gambar lagi dengan tema yang sama. Tapi harus di warnai. Ada pertanyaan? "
" Pak " Ari mengacungkan tangannya.
" Ya kamu "
" Kira-kira berapa orang dari kita yang akan di ikut sertaka ke lomba pak? "
" 4 orang " Jawab pak Rahmat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar