Jumat, 29 Agustus 2014

AT FIRST TIME PART II

          Saatku pertama kali melihatnya saat itu, setiap hari rasa penasaranku pun makin bertambah. Sedang apa dia? Masih sedingin kulkas kah dia hari ini? Bagaimana wajahnya hari ini? Masih teduh kah seperti biasanya?. Hahahaha... konyol memang, tapi begitulah perasaanku saat ini. Bahkan aku bisa langsung menempatkan Ega si cinta masa SD ku di bagian entah mana hatiku. Aku bisa langsung megganti posisinya dengan Gilang. Untungnya posisi dudukku di kelas dekat dengan jendela dan pintu masuk. Jadi mataku bisa bebas berkeliaran keluar.
          Aku tak peduli, bahkan semua temanku tengah sibuk dengan para kakak-kakak kelas yang populer dengan segala kebisaan mereka. Aku tak perduli. Dihatiku penuh dengan bayangan Gilang yang dingin sedingin kulkas. Walau aku tak tau, sepintar apa dia di kelas, jago dalam olahrga apakah dia?, adakah cewek selain aku yang dia suka. Aku tak perdulikan semua itu. Yang aku tau, aku harus banyak tau tentang dia.
          Sejauh ini, aku tau kalu dia rutin ke perpustakaan, dia rutin ke kantin, dia rutin lewat di depan kelasku. Jelaslah dia ruitn melewati kelasku. Letak kelasnya memang di ujung sekolah. Hahahaha.... sebegitu gilanya aku dibuatnya. Maafkan aku Ega, aku berpaling hati. Lagipula Ega pun cuek bebek padaku. Wajar kalau aku begitu mudah berpaling hati.
          Tapi aku juga bukan tipe cewek yang agresif. Yang berani menghampiri cowok yang aku sukai. Tidak, aku tak seperti itu. Aku hanya cukup memandang nya berlama-lama. Melihatnya dari kejauhan tanpa berharap dia membalas melihatku. Aku tipe orang yang puas hanya dengan menjadi sekedar pengagum rahasianya saja. Aku sama sekali tak berharap kalau Gilang akan membalas semua rasa kagumku padanya. Aku puas dengan semua perasaanku ini.
          Dan pada kenyataannya. Saat  aku mengagumi Ega pun, aku hanya memendam perasaanku ini, tanpa berharap Ega membalasnya. Walaupun aku tau, kalau Ega menyadari hal itu. Tapi aku tak akan menuntutnya untuk berbalik menyukaiku. Ya, itulah aku. Puas dengan segala hal yang aku lakukan.
           Seperti saat ini, aku membiarkan perasaan ini mengalir dengan sendirinya, menjalani hari-hari dengan rasa kagum di hati, membuatku lebih bersemangat dalam menjali hari-hariku di sekolah. Cukup dengan mengulum senyum sendirian. Menuliskan namanya di pojok buku. Menuliskan namanya di buku harian unguku. Yah, biarkan aku menikmati perasaan ini. Saat pertama kali perasaan ini muncul. Yang aku rasakan hanya kebahagian yang menyelimuti. Aku rasa bahagia itu cukup buatku.

0 komentar:

Posting Komentar