Jumat, 29 Agustus 2014
Enam bulan kujalani dengan status sebagai pacar Wira, ya layaknya pacaran, ada apel malam Minggu walaupun itu sembunyi-sembunyi. Ya, karena aku memang belum di izinkn pacaran saat ini. Jadi semua yang kulakukan bersama Wira, pasti harus sembunyi-sembunyi. Ada jalan bareng saat pulang sekolah, meski kami berdua tak pernah bergandengan tangan seperti pasangan lainnya. Bahkan, kami sempat foto berdua, dan ada saatnya aku wajib menonton pertandingan sepak bolanya. Semuanya kulakukan dengan bahagia tanpa rasa terpaksa sedikitpun. Tak ada kejadian putus nyambung di hubungan ini. Semua berjalan baik-baik saja. Wira juga termasuk tipe cowok yang lumayan romantis. Kadang dia menghampiri ku hanya untuk memberikan secarik kertas berisikan kata-kata romantis. Ya, ini kali pertama aku berpacaran, dan sangat tidak mengecewakan.
Tentang Gilang, dia tetap tak bisa terlupakan olehku. Aku masih tetap sering memperhatikan dia dari kejauhan. Mengulum senyum sendiri saat sedang membayangkan senyumnya, walau kadang lamunanku buyar terhapus oleh inatanku tentang Wira. Tapi, posisi Gilang di hatiku tetap tak bisa berubah tempat. Dia tetap membuatku makin penasaran sampai saat ini. Hingga suatu Senin pagi, pada saat upacara sedang berlangsung di lapangan bola sekolah ini. Hari ini aku bertugas sebagai penggeret bendera di upacara. Tentu posisiku sekarang berada di depan semua peserta upacara. Dan jelas semua yang ikut dalam upacara ini bisa terlhat olehku.
Daritadi mataku pun sibuk mencari-cari sosok Gilang di barisan kelasnya. Tapi sosok yang aku cari itu tak terlihat. Malah Ega yang terlihat jelas. Karena memang akhir-akhir ini, entah kenapa teman-teman Ega sering mengolok-ngolok aku jika Ega dan aku terlihat di depan mereka. Mereka meledekku, seolah aku punya cinta yag tak kesampaian pada Ega. Aku juga tak mengerti darimana mereka tau tentang perasaanku pada Ega. Padahal itu semua kan sudah berlalu cukup lama. Kenapa baru sekarang muncul kepermukaan.
Tiba-tiba dari sudut lapangan, aku melihat sekeompok anak-anak yg terlambat. Salah satu dari mereka adalah Ari teman sekelasku. Aku pun tertawa kecil melihatnya berlari terburu-buru. Tapi, ada seseorang lagi yang aku kenal. Itu Gilang, dia terlihat berlari menyusul Ari di belakang. Sambil memanggil nama Ari. " Oh... ternyata mereka kenal " Gumamku dalam hati.
Satu langkah maju untukku. Aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang Gilang dari Ari. Untungnya aku dekat dengan Ari si cowok jago Inggris di kelasku. Ya selama ini kami memang ikut kursus pelajaran B. Inggris di tempat yang sama. Di kelas pun kami lumayan dekat. Aku sering meninggalkan teman sebangkuku Desi hanya demi mengobrol dengan Ari. Ya, akhirnya aku mendapatkan jalan yang berbeda hari ini.
***********************
Akhirnya masalahku dengan Wira pun muncul. Wira akhir-akhir ini mulai sibuk dengan kegiatan belajar tambahan. Aku maklum, bahkan sangat maklum. Karena dia memang kelas 3 sekarang. Ujian akhir sudah di depan mata. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja, dia tiba-tiba jadi berubah cuek padaku. Awalnya ku pikir karena mungkin dia sedang sibuk. Tapi ku lihat Ine tetap bisa berkomunikasi normal dengan pacarnya yang teman sekelas Wira. Akhirnya, aku merasa kalau aku harus bertanya tentang perubahan ini. Entah kenapa, itu semua malah menjadi pengganggu pikiranku. Aku pun memutuskan untuk menemuinya hari ini. Aku menunggu nya di belakang kelas.
" Ada apa Di? " Tanyanya saat sudah di hadapanku. Seperti biasa, masih dengan senyuman charming itu.
" Um... Kamu kenapa berubah akhir-akhir ini? "
" Berubah? Hah? Apanya yang berubah di? " Dia memandangku lekat. Aku malah menunduk.
" Um.... Kamu berubah... " Kataku pelan. " Kamu ngga kaya biasanya "
" Kenapa Di? Aku biasa aja koq... maaf klo akhir-akhir aini aku sibuk, kan lagi ujian "
" Ya aku tau, tapi gimana ya? Kamu beda, kadang kamu pura-pura ngga ngeliat aku Wira... " Aku semakin menundukkan kepalaku. " Bilang kalo kamu mulai bosen sama aku, aku memang ngga kaya cewe lainnya yang mau di genggam tangannya kalo jalan berdua. Tapi jujur aku ngga suka kamu cuekin "
" Di... " Dia menyentuh daguku. Membuat aku mendongak ke arah wajahnya. Tapi aku kembali menunduk. " Di... liat aku " Dia melakukan hl yang sama seperti tadi. Tapi kali ini aku tak menolak. " Aku ngga berubah Di... Ngga... Tapi memang ini yang aku mau dari kamu, kamu sedikit peduli sama aku. Ini yang aku mau, aku jadi tau, kalo bukan cuma aku yang suka sama kamu. Tapi kamu juga... "
" Hah? "
" Yaudah... Jangan mikir macem-macem lagi ya " Katanya sambil mengelus kepalaku pelan. " Aku balik ke kelas yah... " Dia mengelus pipiku kali ini.
Tinggalah aku sendirian dengan semua kata-kata yang membingungkan tadi.
***************************
Ujian akhir kelas 3 berlalu, tapi tak ada perubahan dari Wira. Dia masih cuek padaku. Tak memperdulikanku seperti biasa. Aku pun meyerah, aku tak ingin menanyakannya lagi. Kadang aku hanya sekedar melihat pertandingan bolanya dari jendela. Sedih memang, sedih sekali rasanya. Ada yuang sakit sekali, tapi entah di bagian hati yang mana. Aku tak menyangka, rasa sakit dicuekin itu rupanya bisa sampai seperti ini. Walupun aku mencoba menutupinya setiap hari. Dengan tertawa terbahak bersama Ari, tapi disaat aku sendirian, rasa sakit itu kembai muncul.
" Lu punya masalah apa sih Di? " Seseorang menghampiri aku yang sedang duduk termenung di belakang kelas. Dia Riky teman sebangku Ari.
Sejak awal aku pindah ke kelas unggul, dia memang selalu berusaha dekat denganku. Bahkan saking isengnya, tiap jam pulang sekolah dia selalu menggangguku jika jarak jalanku dengan Wira menempel.
" Hah? Ngga ada koq... " Jawabku.
" Udah ngga usah bohong, hubungan lu sama si gondrong itu mulai ga nyaman kan? "
Ya, Wira memang gondrong, Riky selalu menyebutnya si gondrong jika membicarakannya.
" Yah... begitulah " Kataku.
" Udah lah.... ngga usah bete gitu. Nih " Dia menyerahkan setengah batang coklat padaku.
Seperti biasa, dia selalu membagi coklatnya padaku.
" Hmmmm... " Aku tersenyum. " Makasih "
" Katanya sih, coklat bisa bikin mood buruk jadi bagus lagi " Kata Riky sambil mencubit pipiku.
" Aw... Sakit Ky... " Teriakku.
Diseberang kelas sana ada yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas. Cowok bertopi dan gondrong. Ya Gilang mendengar teriakanku. Dia menoleh ke arahku. Dan aku pun terpaku sejenak.
Tentang Gilang, dia tetap tak bisa terlupakan olehku. Aku masih tetap sering memperhatikan dia dari kejauhan. Mengulum senyum sendiri saat sedang membayangkan senyumnya, walau kadang lamunanku buyar terhapus oleh inatanku tentang Wira. Tapi, posisi Gilang di hatiku tetap tak bisa berubah tempat. Dia tetap membuatku makin penasaran sampai saat ini. Hingga suatu Senin pagi, pada saat upacara sedang berlangsung di lapangan bola sekolah ini. Hari ini aku bertugas sebagai penggeret bendera di upacara. Tentu posisiku sekarang berada di depan semua peserta upacara. Dan jelas semua yang ikut dalam upacara ini bisa terlhat olehku.
Daritadi mataku pun sibuk mencari-cari sosok Gilang di barisan kelasnya. Tapi sosok yang aku cari itu tak terlihat. Malah Ega yang terlihat jelas. Karena memang akhir-akhir ini, entah kenapa teman-teman Ega sering mengolok-ngolok aku jika Ega dan aku terlihat di depan mereka. Mereka meledekku, seolah aku punya cinta yag tak kesampaian pada Ega. Aku juga tak mengerti darimana mereka tau tentang perasaanku pada Ega. Padahal itu semua kan sudah berlalu cukup lama. Kenapa baru sekarang muncul kepermukaan.
Tiba-tiba dari sudut lapangan, aku melihat sekeompok anak-anak yg terlambat. Salah satu dari mereka adalah Ari teman sekelasku. Aku pun tertawa kecil melihatnya berlari terburu-buru. Tapi, ada seseorang lagi yang aku kenal. Itu Gilang, dia terlihat berlari menyusul Ari di belakang. Sambil memanggil nama Ari. " Oh... ternyata mereka kenal " Gumamku dalam hati.
Satu langkah maju untukku. Aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang Gilang dari Ari. Untungnya aku dekat dengan Ari si cowok jago Inggris di kelasku. Ya selama ini kami memang ikut kursus pelajaran B. Inggris di tempat yang sama. Di kelas pun kami lumayan dekat. Aku sering meninggalkan teman sebangkuku Desi hanya demi mengobrol dengan Ari. Ya, akhirnya aku mendapatkan jalan yang berbeda hari ini.
***********************
Akhirnya masalahku dengan Wira pun muncul. Wira akhir-akhir ini mulai sibuk dengan kegiatan belajar tambahan. Aku maklum, bahkan sangat maklum. Karena dia memang kelas 3 sekarang. Ujian akhir sudah di depan mata. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja, dia tiba-tiba jadi berubah cuek padaku. Awalnya ku pikir karena mungkin dia sedang sibuk. Tapi ku lihat Ine tetap bisa berkomunikasi normal dengan pacarnya yang teman sekelas Wira. Akhirnya, aku merasa kalau aku harus bertanya tentang perubahan ini. Entah kenapa, itu semua malah menjadi pengganggu pikiranku. Aku pun memutuskan untuk menemuinya hari ini. Aku menunggu nya di belakang kelas.
" Ada apa Di? " Tanyanya saat sudah di hadapanku. Seperti biasa, masih dengan senyuman charming itu.
" Um... Kamu kenapa berubah akhir-akhir ini? "
" Berubah? Hah? Apanya yang berubah di? " Dia memandangku lekat. Aku malah menunduk.
" Um.... Kamu berubah... " Kataku pelan. " Kamu ngga kaya biasanya "
" Kenapa Di? Aku biasa aja koq... maaf klo akhir-akhir aini aku sibuk, kan lagi ujian "
" Ya aku tau, tapi gimana ya? Kamu beda, kadang kamu pura-pura ngga ngeliat aku Wira... " Aku semakin menundukkan kepalaku. " Bilang kalo kamu mulai bosen sama aku, aku memang ngga kaya cewe lainnya yang mau di genggam tangannya kalo jalan berdua. Tapi jujur aku ngga suka kamu cuekin "
" Di... " Dia menyentuh daguku. Membuat aku mendongak ke arah wajahnya. Tapi aku kembali menunduk. " Di... liat aku " Dia melakukan hl yang sama seperti tadi. Tapi kali ini aku tak menolak. " Aku ngga berubah Di... Ngga... Tapi memang ini yang aku mau dari kamu, kamu sedikit peduli sama aku. Ini yang aku mau, aku jadi tau, kalo bukan cuma aku yang suka sama kamu. Tapi kamu juga... "
" Hah? "
" Yaudah... Jangan mikir macem-macem lagi ya " Katanya sambil mengelus kepalaku pelan. " Aku balik ke kelas yah... " Dia mengelus pipiku kali ini.
Tinggalah aku sendirian dengan semua kata-kata yang membingungkan tadi.
***************************
Ujian akhir kelas 3 berlalu, tapi tak ada perubahan dari Wira. Dia masih cuek padaku. Tak memperdulikanku seperti biasa. Aku pun meyerah, aku tak ingin menanyakannya lagi. Kadang aku hanya sekedar melihat pertandingan bolanya dari jendela. Sedih memang, sedih sekali rasanya. Ada yuang sakit sekali, tapi entah di bagian hati yang mana. Aku tak menyangka, rasa sakit dicuekin itu rupanya bisa sampai seperti ini. Walupun aku mencoba menutupinya setiap hari. Dengan tertawa terbahak bersama Ari, tapi disaat aku sendirian, rasa sakit itu kembai muncul.
" Lu punya masalah apa sih Di? " Seseorang menghampiri aku yang sedang duduk termenung di belakang kelas. Dia Riky teman sebangku Ari.
Sejak awal aku pindah ke kelas unggul, dia memang selalu berusaha dekat denganku. Bahkan saking isengnya, tiap jam pulang sekolah dia selalu menggangguku jika jarak jalanku dengan Wira menempel.
" Hah? Ngga ada koq... " Jawabku.
" Udah ngga usah bohong, hubungan lu sama si gondrong itu mulai ga nyaman kan? "
Ya, Wira memang gondrong, Riky selalu menyebutnya si gondrong jika membicarakannya.
" Yah... begitulah " Kataku.
" Udah lah.... ngga usah bete gitu. Nih " Dia menyerahkan setengah batang coklat padaku.
Seperti biasa, dia selalu membagi coklatnya padaku.
" Hmmmm... " Aku tersenyum. " Makasih "
" Katanya sih, coklat bisa bikin mood buruk jadi bagus lagi " Kata Riky sambil mencubit pipiku.
" Aw... Sakit Ky... " Teriakku.
Diseberang kelas sana ada yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas. Cowok bertopi dan gondrong. Ya Gilang mendengar teriakanku. Dia menoleh ke arahku. Dan aku pun terpaku sejenak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar